Terkini

Ingin upgrade skill tanpa ribet? Temukan kelas seru dan materi lengkap hanya di YukBelajar.com. Mulai langkah suksesmu hari ini! • Mau lulus? Latih dirimu dengan ribuan soal akurat di tryout.id.

tips and trick

Dari Kurban untuk Kebersamaan: Pesta Kurban TurunTangan Bekasi Hidupkan Semangat Gotong Royong di Tengah Kota

Dari Kurban untuk Kebersamaan: Pesta Kurban TurunTangan Bekasi Hidupkan Semangat Gotong Royong di Tengah Kota
Dari Kurban untuk Kebersamaan: Pesta Kurban TurunTangan Bekasi Hidupkan Semangat Gotong Royong di Tengah Kota (Foto: BeritaOpini/Dokumentasi)

Dinda

Minggu, 31 Mei 2026 | 21:29 WIB

BEKASI – Idul Adha selalu membawa pesan yang sama namun tak pernah kehilangan maknanya: tentang keikhlasan, pengorbanan, dan kepedulian terhadap sesama. Di balik ritual kurban yang dilaksanakan setiap tahun, tersimpan nilai sosial yang jauh lebih luas, yakni bagaimana manusia diajak untuk saling berbagi, saling peduli, dan saling menguatkan. Semangat inilah yang kemudian diwujudkan oleh TurunTangan Bekasi melalui kegiatan bertajuk Pesta Kurban, sebuah inisiatif sosial yang mengubah momen Idul Adha menjadi ruang kebersamaan yang hidup dan bermakna.

Kegiatan perdana ini diselenggarakan di Pondok Pesantren Fajar Cendekia, Kota Bekasi, pada Rabu (27/05/2026), dengan mengusung tema “Berbagi Kebaikan, Berbagi Kebersamaan”. Lebih dari sekadar agenda distribusi daging kurban, Pesta Kurban dirancang sebagai pengalaman kolektif yang mempertemukan relawan, santri, donatur, dan masyarakat dalam satu ekosistem kegiatan yang penuh interaksi, kolaborasi, dan nilai kemanusiaan.

Sejak pagi hari, suasana pesantren berubah menjadi ruang aktivitas yang dinamis. Para relawan berdatangan dengan semangat tinggi, siap terlibat dalam seluruh rangkaian kegiatan. Mereka tidak bekerja sendiri, melainkan berdampingan dengan para santri dan warga sekitar, membentuk pola kerja yang cair tanpa batas formalitas. Di titik inilah terlihat bahwa kegiatan ini bukan hanya soal kurban, tetapi juga soal membangun kedekatan sosial yang nyata.

Sebanyak sebelas ekor hewan kurban diproses dalam kegiatan tersebut. Seluruh rangkaian mulai dari penyembelihan, pemotongan, penimbangan, hingga pengemasan dilakukan secara gotong royong. Setiap orang mengambil peran, sekecil apa pun, dan dari sana tercipta ritme kerja bersama yang penuh energi positif. Tidak ada sekat antara “pemberi” dan “penerima”—yang ada hanyalah manusia yang bekerja bersama untuk kebaikan bersama.

Untuk memperkuat pengalaman tersebut, TurunTangan Bekasi merancang kegiatan dalam empat zona utama yang saling terhubung. Pojok Potong Kurban menjadi pusat proses awal penyembelihan dan pengolahan. Di sini, koordinasi dan kerja sama menjadi kunci agar seluruh proses berjalan lancar dan sesuai ketentuan.

Zona berikutnya adalah Lapak Berbagi Daging, yang menjadi titik distribusi kepada masyarakat sekitar. Melalui zona ini, manfaat kurban disalurkan secara langsung kepada mereka yang membutuhkan, memastikan bahwa nilai kepedulian benar-benar sampai ke akar masyarakat.

Kemudian, Dapur Olah Rasa dan Masak Bersama menjadi salah satu area paling hidup sepanjang kegiatan. Di tempat ini, relawan dan santri berkolaborasi mengolah bahan makanan menjadi hidangan yang tidak hanya layak konsumsi, tetapi juga membawa rasa kebersamaan yang kuat. Aktivitas memasak menjadi medium interaksi yang mencairkan jarak sosial dan menciptakan suasana kekeluargaan.

Sementara itu, Santap Berjamaah menjadi puncak dari seluruh rangkaian kegiatan. Semua peserta duduk bersama, menikmati hidangan tanpa sekat, tanpa perbedaan status. Momen ini memperlihatkan bahwa kebahagiaan tidak selalu lahir dari hal besar, tetapi dari kesempatan sederhana untuk duduk dan berbagi dalam satu meja yang sama.

Fitri Nur Azizah selaku penanggung jawab kegiatan menjelaskan bahwa Pesta Kurban dirancang sebagai ruang sosial yang lebih dari sekadar agenda tahunan.

“Kami ingin menghadirkan pengalaman yang membuat semua orang merasa terhubung. Bukan hanya berbagi daging, tetapi juga berbagi waktu, tenaga, dan perhatian. Karena dari kebersamaan seperti inilah rasa peduli bisa tumbuh lebih kuat,” ujarnya.

Kegiatan semakin semarak ketika agenda Masak Besar Bersama dimulai pada sore hari. TurunTangan Bekasi menghadirkan Chef Ami, atau Fahmi Prachaya Rungroj, alumni MasterChef Indonesia Season 11, yang turut memandu proses memasak bersama.

Kehadiran Chef Ami memberikan warna baru dalam kegiatan ini. Dengan pendekatan yang santai dan interaktif, ia mengajak para santri untuk terlibat langsung dalam proses memasak. Dapur pesantren yang biasanya sederhana berubah menjadi ruang kolaborasi yang penuh semangat.

Para santri terlihat antusias membantu menyiapkan bahan, mengolah bumbu, hingga mengaduk masakan dalam kuali besar. Aroma rempah yang khas memenuhi area pesantren, menambah kehangatan suasana yang sudah terbentuk sejak pagi. Bersama relawan, mereka menyiapkan hidangan untuk sekitar 200 peserta yang hadir dalam kegiatan tersebut.

Lebih dari sekadar memasak, momen ini menjadi sarana pembelajaran sosial: tentang kerja sama, komunikasi, dan rasa percaya diri. Semua peserta terlibat dalam proses yang sama, sehingga tercipta pengalaman yang tidak hanya mengenyangkan secara fisik, tetapi juga memperkaya secara emosional.

Selain itu, para santri juga mengikuti berbagai permainan edukatif yang dirancang untuk memperkuat kerja sama tim dan membangun suasana ceria. Tawa dan interaksi hangat terdengar di berbagai sudut pesantren, menciptakan atmosfer yang sulit ditemukan dalam keseharian mereka.

Menjelang sore, relawan kembali bergerak untuk mendistribusikan daging kurban kepada masyarakat sekitar. Aktivitas ini menjadi bagian penting dari rantai kebaikan yang ingin ditekankan dalam Pesta Kurban—bahwa berbagi tidak berhenti pada niat, tetapi harus sampai pada tindakan nyata.

Kegiatan kemudian ditutup dengan bakar sate bersama di malam hari. Dalam suasana santai, seluruh peserta berkumpul kembali, menikmati hidangan, dan berbagi cerita setelah seharian beraktivitas bersama. Momen ini menjadi penutup yang hangat sekaligus refleksi dari seluruh rangkaian kegiatan.

Melalui Pesta Kurban perdana ini, TurunTangan Bekasi menunjukkan bahwa kurban dapat dimaknai lebih luas dari sekadar ritual tahunan. Ia dapat menjadi ruang pertemuan, ruang belajar, dan ruang untuk membangun hubungan sosial yang lebih kuat. Di tengah kehidupan yang semakin individual, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa kebersamaan masih menjadi fondasi penting dalam membangun masyarakat yang lebih peduli dan saling menguatkan.

Baca Juga